Stok Menipis, Alasan Daihatsu Kini Genjot Produksi – Portal Industri Otomotif Indonesia News, Manufaktur, & Gaya Hidup Terkini


Sudah Naik 4,4%, Penjualan Sigra Masih Saja Ketendang Calya

Stok Menipis, Alasan Daihatsu Kini Genjot Produksi

New Astra Daihatsu Sigra. – dok.ADM

Jakarta, Motoris – PT Astra Daihatsu Motor (ADM) mengaku sejak awal Agustus ini telah menggenjot kembali produksi unit mobil yang dipasarkannya di Indonesia, seiring dengan menipisnya stok unit di pasar. Meski sepanjang Januari – Juni kemarin penjualan mobil Daihatsu baik ke diler (wholesales) maupun ke konsumen (ritel) tercatat ambles.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis di Jakarta, Selasa (4/8/2020), ADM menyebut sejak dibukanya aktivitas perekonomian secara bertahap, industri otomotif nasional mulai bergairah dan menunjukkan tren peningkatan sedikit demi sedikit. Kondisi ini, sebut ADM, telah membuat stok kendaraan menjadi semakin menipis mengingat hampir semua merek tidak melakukan produksi secara optimal.

“Hal yang sama juga terjadi pada Daihatsu, kondisi stok Daihatsu di pasar sangat terbatas, sehingga tidak dapat memenuhi permintaan pelanggan secara maksimal,” bunyi pernyataan itu.

Marketing Director dan Corporate Planning & Communication Director ADM, Amelia Tjandra, mengatakan sejak bulan Juli lalu pihaknya telah melakukan persiapan untuk melakukan produksi secara dua shift dengan tetap mengikuti protokol kesehatan dan pencegahan penyebaran Covid-19. Realisasi proses produksi dua shift tersebut telah dilakukan sejak awal Agustus baik di pabrik Sunter maupun Karawang.

All New Daihatsu – dok.Motoris

“Dari implementasi penerapan dua shift produksi, diharapkan hasil produksi di bulan Agustus akan meningkat empat kali lipat dibandingkan dengan hasil produksi bulan Juli,” papar dia.

Amelia mengklaim Dengan persiapan dan komunikasi yang baik, semua supplier (pemasok) Daihatsu siap mendukung peningkatan produksi ADM. Para supplier Daihatsu, sebut dia, juga berkomitmen menerapkan protokol kesehatan walaupun permintaan produksi meningkat.

Data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, sepanjang Januari – Juni lalu, penjualan Daihatsu baik ke diler (wholesales) maupun ke konsumen (ritel) sama-sama ambles. Namun, jika dilihat volumenya, angka penjualan ke konsumen (ritel) memang jauh lebih banyak ketimbang wholesales, meski sama-sama ambles dibanding 2019.

Sepanjang paruh pertama tersebut ADM membukukan wholesales sebanyak 49.774 unit, atau turun 43% dibanding wholesales selama periode sama tahun 2019. Bahkan di bulan Mei, merek ini tak mendistribusikan unit mobil ke diler alias nihil wholesales.

LCGC Astra Daihatsu Ayla – dok.Istimewa

Sedangkan di rentang waktu yang sama, penjualan ke konsumen (ritel) tercatat sebanyak 53.577 unit, atau ambles 39% dibanding penjualan di periode sama tahun lalu. Penjualan ritel di enam bulan pertama ini dibukukan dari penjualan sepanjang Januari yang sebanyak 14.582 unit, Februari 13.658 unit, Maret 10.946 unit, April 5.160 unit, Mei 3.673 unit, dan Juni 5.568 unit.

Hanya, keterangan resmi PT ADM itu tak menyebutkan secara tegas apakah peningkatan produksi melalui dua shift tersebut – yang volumenya disebut bakal empat kali lipat jumlah produksi selama Juli – juga termasuk  untuk dialokasikan kepada PT Toyota Astra Motor atau tidak. Khususnya untuk mobil kembar seperti Xenia (dengan Avanza), Ayla (dengan Agya), dan Terios (dengan Rush).

Tetapi yang pasti, jumlah produksi dan stok bukanlah faktor yang menyebabkan penjualan selama enam bulan pertama tahun ini ambles, melainkan permintaan. Meski, faktor stok yang kurang bisa menjadi penyebab turunnya penjualan. Namun, sekali lagi, di paruh pertama tahun ini, penurunan penjualan hampir semua merek bukan disebabkan masalah itu.

Ilustrasi, Daihatsu Xenia – dok.Motoris

Tetapi jika stok ke diler (wholesales) turun, ujar salah seorang pengurus Gaikindo saat dihubungi di Jakarta, Selasa (4/8/2020) malam, penyebabnya bisa karena permintaan dari diler yang  memang enurun. Atau, lanjut dia, karena produksi dari pabrik jumlahnya terbatas sehingga yang didistribusikan ke diler juga minim.

“Tetapi yang pasti, di semester pertama tahun ini, turunnya penjualan ritel bukan karena tidak ada stok, melainkan permintaan yang turun karena ekonomi dan daya beli yang melemah. Ekonomi kuartal pertama hanya tumbuh 2,97%, turun jauh dari kuartal I 2019 yang masih 5%. Kuartal II malah disebut-sebut minus 4% lebih,” ungkap dia. (Fan/Ara)

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

You may also like

More From: MANUFAKTUR

DON'T MISS