Penyederhanaan BBM, Minimal RON 91? Ini Tantangannya – Portal Industri Otomotif Indonesia News, Manufaktur, & Gaya Hidup Terkini


Harga BBM RI Lebih Mahal Tapi Kualitas Rendah, Diduga Ulah Mafia

Penyederhanaan BBM, Minimal RON 91? Ini Tantangannya

Ilustrasi pengisian BBM – dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – PT Pertamina (Persero) terus berupaya mendorong program penggunaan produk bahan bakar minyak (BBM) dengan kualitas tinggi dan ramah lingkungan, sehingga berencana menyederhanakan ragam varian BBM yang dijual di jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) jaringannya. Dengan penyederhanaan itu, jenis BBM terendah yang disediakan minimal memiliki Research Octane Number (RON) dan Cetane Number (CN) minimal 51.

Pernyataan tersebut diungkapkan Direktur Utama Pertamina (Persero), di Jakarta, Selasa (16/6/2020) lalu. Menurut dia penyederhanaan produk itu sesuai dengan regulasi yang dibuat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Beleid berupa Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017 itu menyatakan, spesifikasi BBM jenis bensin yakni memiliki angka oktan (RON) minimal 91, kandungan sulfur maksimal 50 part per million (ppm).

Sementara spesifikasi BBM jenis solar yaitu memiliki angka cetane (CN) minimal 51 dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm. “Ini akan kita prioritaskan, yaitu produk-produk yang ramah lingkungan. Karena kita semua bisa merasakan, saat (permberlakuan) PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) kondisi langitnya lebih biru (indikasi bersihnya lingkungan karena berkurangnya polusi udara dari asap atau emisi gas buang kendaraan),” papar Nicke yang baru saja terpilih kembali sebagai orang nomor satu di perseroan itu.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati saat mengisikan BBM ke mobil di SPBU Pertamina – dok.Twitter

Lantaran itulah, lanjut dia, Pertamina ingin terus mendorong masyarakat untuk gunakan BBM ramah lingkungan, yakni produk BBM yang bagus. “Agar kondisi itu (lingkungan bersih, dengan indikasi langit yang bitu itu) terus terjadi,” ucap Nicke.

Bukan sekadar ganti nama
Menanggapi, rencana ini Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), Ahmad Safrudin merespon positif. Hanya saja, jika RON lebih bagus, maka harga juga akan lebih mahal, sehingga keberatan masyarakat juga akan terjadi karena faktor daya beli.

Meski, hal itu bisa saja disiasati dengan penggunaan bahan baku BBM yang digunakan  berupa dirty fuel atau minyak berspesifikasi rendah. Tetapi, jika menggunakan bahan baku itu – dan menurut pria yang akrab disapa Puput itu, diduga telah terjadi  selama ini – maka tujuan mewujudkan lingkungan bersih tak akan terjadi, BBM baru hanya akan sekadar berganti nama, padahal kualitasnya tetap rendah.

Kemungkinan masih beredarnya bahan baku rendah, lanjut Puput, karena diduga hingga kini masih banyak oknum yang berkepentingan menawarkan dan menjual dirty fuel itu ke Indonesia untuk meraup keuntungan yang lebih besar. Maklum, stok BBM kotor ini sangat melimpah di dunia setelah banyak negara meninggalkannya dan beralih ke jenis yang lebih bersih sesuai dengan standar Euro 4, Euro 5, dan Euro 6. Alhasil, harganya jauh lebih murah.

Ilustrasi, pengisian BBM ke sebuah mobil di SPBU Pertamina – dok.Istimewa/Pertamina

Oleh karenanya, agar program mewujudkan lingkungan bersih, BBM beroktan tinggi digunakan masyarakat, maka kualitas harus tetap terjaga tetapi harga jual masih terjangkau, aksi oknum trader (pedagang) penjual dirty fuel ke Indonesia harus dicegah dan diakhiri. Lantaran itulah, komando Presiden sangat diperlukan.

“Oleh karena itu, bicara program itu, masyarakat hanya bisa mengawal saja. Berhasil tidaknya, sangat tergantung kepada kesungguhan Presiden. Bukan pada Menteri, apalagi cuma Dirut (Direktur Utama) Pertamina. Kalau Presiden berkenan, dalam satu malam juga bisa terealisir itu program (penghapusan dirty fuel),” kata pria yang akrab disapa Puput itu saat dihubungi Motoris, via pesan elektronik, di Jakarta, Kamis (18/6/2020).

Selain itu, agar harga BBM terjangkau, maka pemerintah diminta mengevaluasi kembali struktur komponen harga BBM yang ada saat ini. Mulai dari harga minyak mentah Indonesia (ICP), pajak BBM 5%, PPN 10%, dan margin keuntungan bagi pengusaha, agar harga jual BBM lebih kompetitif tetapi tidak mengorbankan kepentingan pengusaha.

Ilustrasi, drum berisi minyak mentah – dok.The Financial Express

Sebab, jika harga BBM dengan kualitas yang tinggi harganya tetap terjangkau masyarakat – karena struktur komponen harganya efisien –  maka masyarakat akan berminat menggunakannya. “Dampak terhadap lingkungan, akibat polusi pun bisa dikurangi,” imbuh Puput. (Fer/Ara)

 

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

You may also like

More From: AUTOKRITIK

DON'T MISS