Penundaan Standar Emisi Euro 4 Diesel di RI, Bisa Berefek Buruk ke Industri


Polusi Udara Jakarta Makin Akut, KPPB: 47% dari Kendaraan Bermotor

Penundaan Standar Emisi Euro 4 Diesel di RI, Bisa Berefek Buruk ke Industri

Ilustrasi, polusi udara karena emisi karbon kendaraan bermotor – dok.istimewa

Jakarta, Motoris – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) disebut telah menyatakan Pengunduran waktu pelaksanaan ketentuan standar emisi gas buang Euro 4 bagi kendaraan diesel yang semestinya berlaku mulai April 2021 menjadi April 2022. Kebijakan itu telah ditetapkan melalui dari Surat Menteri KLHK Nomor S 786/MENLHK-PPKL/SET/PKL.3/5/2020 yang bertanggal 20 Mei 2020 lalu.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), Ahmad Safrudin mengatakan, pemunduran pelaksanaan standar tersebut bisa menjai preseden buruk bagi citra Indonesia di mata internasional. Khususnya di mata negara-negara yang meratifikasi Paris Agreement.

“Perjanjian untuk menurunkan tingkat emisi demi menurunkan kadar pemanasan global ini diratifikasi oleh 141 negara ada April 2016. Dengan langkah dan target yang sudah jelas dan disepakati. Jadi, kalau Indonesia melakukan tindakan sepihak dengan alasan yang tidak tepat bisa diisolir oleh negara-negara lain, karena dianggap tidak konsisten dan menghambat pencapaian target,” papar pria yang akrab disapa Puput itu saat dihubungi Motoris, akhir pekan kemarin.

Ilustrasi emisi gas buang – dok.Istimewa

Menurut dia, jika Indonesia beralasan dampak wabah virus corona (Covid-19) sehingga prinsipal dan agen pemegang merek belum siap, merupakan alasan yang lemah. Pasalnya, kata dia, program penerapan standar Euro 4 untuk kendaraan diesel ditetapkan pada Maret 2017.

Bahkan, kata Puput, sudah melalui persiapan yang final melalui Discussion Group yang melibatkan berbagai pihak terkait sejak tahun 2013. “Jadi tidak ada ada alasan bahwa Covid-19 sebagai force majeur yang menyebabkan persiapan tidak ada, karena Covid dinyatakan marak di Indonesia pada Maret 2020,” ujar dia.

Jika Indonesia tetap menunda, dan bahkan nanti bisa ditunda lagi maka akan merugi sendiri. “Karena akan berdampak pada kesiapan industri otomotif nasional, terutama dalam memenuhi pasar ekspor. Teknologi standar kita tidak berembang, padahal internasional sudah standar Euro 6, Kita masih Euro 2. Dan tentu saja, lingkungan hidup nasional yang terdampak langsung,” ungkap Puput.

Pernyataan senada disampaikan peneliti senior Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Alexander Sugandi yang dihubungi akhir pekan lalu. Menurutnya, perkembangan industri nasional harus selaras dengan perkembangan internasional.

Ilustrasi. kegiatan produksi mobil- dok.Istimewa via Rivard Report

“Jadi, kita harus outward looking. Jangan Cuma melihat ke dalam saja. Tantangan persaingan di pasar global semakin ketat, seiring dengan perubahan tatanan dan gaya hidup masyarakat global, terutama semakin tingginya kesadaran terhadap kondisi lingkungan. Kalau kita tidak berooerientasi ke pasar internasional, industri kita tidak akan berkembang,” papar dia. (Fat/Ril/Ara)

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

More From: AUTOKRITIK

DON'T MISS